B. ITB

Informasi Umum dan Sejarah

Institut Teknologi Bandung (ITB), didirikan pada tanggal 2 Maret 1959. Kampus utama ITB saat ini merupakan lokasi dari sekolah tinggi teknik pertama di Indonesia. Walaupun masing-masing institusi pendidikan tinggi yang mengawali ITB memiliki karakteristik dan misi masing-masing, semuanya memberikan pengaruh dalam perkembangan yang menuju pada pendirian ITB.

Sejarah ITB bermula seja awal abad kedua puluh, atas prakarsa masyarakat penguasa waktu itu. Gagasan mula pendirianya terutama dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga teknik yang menjadi sulit karena terganggunya hubungan antara negeri Belanda dan wilayah jajahannya di kawasan Nusantara, sebagai akibat pecahnya Perang Dunia Pertama. De Techniche Hoogeschool te Bandung berdiri tanggal 3 Juli 1920 dengan satu fakultas de Faculteit van Technische Wetenschap yang hanya mempunyai satu jurusan de afdeeling der Weg en Waterbouw.

Didorong oleh gagasan dan keyakinan yang dilandasi semangat perjuangan Proklamasi Kemerdekaan serta wawasan ke masa depan, Pemerintah Indonesia meresmikan berdirinya Institut Teknologi Bandung pada tanggal 2 Maret 1959 . Berbeda dengan harkat pendirian lima perguruan tinggi teknik sebelumnya di kampus yang sama, Institut Teknologi Bandung lahir dalam suasana penuh dinamika mengemban misi pengabdian ilmu pengetahuan dan teknologi, yang berpijak pada kehidupan nyata di bumi sendiri bagi kehidupan dan pembangunan bangsa yang maju dan bermartabat.

Kurun dasawarsa pertama tahun 1960-an ITB mulai membina dan melengkapi dirinya dengan kepranataan yang harus diadakan. Dalam periode ini dilakukan persiapan pengisian-pengisian organisasi bidang pendidikan dan pengajaran, serta melengkapkan jumlah dan meningkatkan kemampuan tenaga pengajar dengan penugasan belajar ke luar negeri.

Kurun dasawarsa kedua tahun 1970-an ITB diwarnai oleh masa sulit yang timbul menjelang periode pertama. Satuan akademis yang telah dibentuk berubah menjadi satuan kerja yang juga berfungsi sebagai satuan sosial-ekonomi yang secara terbatas menjadi institusi semi-otonomi. Tingkat keakademian makin meningkat, tetapi penugasan belajar ke luar negeri makin berkurang. Sarana internal dan kepranataan semakin dimanfaatkan.

Kurun dasawarsa ketiga tahun 1980-an   ditandai dengan kepranataan dan proses belajar mengajar yang mulai memasuki era modern dengan sarana fisik kampus yang makin dilengkapi. Jumlah lulusan sarjana makin meningkat dan program pasca sarjana mulai dibuka. Keadaan ini didukung oleh makin membaiknya kondisi sosio-politik dan ekonomi negara.

Kurun dasawarsa keempat tahun 1990-an perguruan tinggi teknik yang semula hanya mempunyai satu jurusan pendidikan itu, kini memiliki dua puluh enam Departemen Program Sarjana, termasuk Departemen Sosioteknologi, tiga puluh empat Program Studi S2/Magister dan tiga Bidang Studi S3/Doktor yang mencakup unsur-unsur ilmu pengetahuan, teknologi, seni, bisnis dan ilmu-ilmu kemanusiaan.

Dasawarsa ini akan menghantarkan ITB ke fajar abad baru yang ditandai dengan munculnya berbagai gagasan serta pemikiran terbaik untuk pengembangannya. Beberapa diantaranya antara lain:\

Bahwa cepatnya pelipatgandaan informasi di abad baru akan menuntut pelaksanaan pendidikan yang berpercepatan, tepat waktu, terpadu, berkelanjutan, dan merupakan upaya investasi terbaik. Dalam upaya ini ITB ingin menegakkan Program Sarjana di atas pondasi penguasaan ilmu-ilmu dasar yang kokoh sehingga lulusannya senantiasa mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan yang datang dengan cepat. Program Pasca Sarjana menjadi ujung tombak peningkatan kualitas dan kuantitas, efisiensi dan efektivitas, serta relevansinya terhadap kebutuhan, sehingga kontribusi ITB bagi pembangunan nasional akan menjadi lebih besar dan tinggi nilainya.

Bahwa penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu dilakukan secara utuh dan terpadu, dalam suatu kiprah sebagai Research and Development University. Pengembangan keilmuan dan teknologi di ITB didasarkan pada kebutuhan untuk menunjang pelaksanaan pembangunan bangsa. Dengan demikian ITB akan mengembangkan dirinya dalam riset dan manufaktur, teknologi komunikasi dan informasi, transportasi darat-laut dan dirgantara, lingkungan, serta bio-teknologi dan biosains.

Bahwa misi pengabdian kepada masyarakat diharapkan dapat membangun wawasan bisnis untuk kemandirian yang merupakan modal awal untuk menegakkan otonomi perguruan tinggi. Wawasan bisnis untuk kemandirian tersebut diarahkan guna meraih prestasi pelaksanaan kewajiban dan tugas pendidikan dan penelitian setinggi-tingginya.

Bahwa pengembangan ITB diharapkan berpijak pada kekuatan institusi berupa penggunaan informasi sebaik-baiknya, terpeliharanya Staf Pengajar yang kompeten yang tinggi mutu kemampuan dan pengabdiannya, sistem pendidikan yang terintegrasi, dan kerjasama yang terjalin erat dengan pemerintah, industri dan lembaga penelitian dan pendidikan di dalam dan luar negeri. Sehingga pengembangan yang direncanakan dapat dipantau secara berkelanjutan dan terukur menurut pelaksanaan tridharma perguruan tinggi, pengembangan sumber daya manusia, sarana fisik, kepranataan norma dan tata kerja, serta ekonomi, sosial budaya dan keamanan.

Bahwa keinginan untuk mengembangkan ITB terungkap dengan semangat dan sikap ITB yang mengakui adanya kebenaran keilmuan, kebenaran keilmuan yang dapat didekati melalui observasi disertai analisis yang rasional. Bahwasanya mengejar dan mencari kebenaran ilmiah tersebut adalah hak setiap insan di bumi, dan ilmu pengetahuan serta teknologi agar dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk mensejahterakan umat manusia, dan masyarakat bangsa Indonesia pada khususnya.

Kurun dasawarsa kelima tahun 2000-an Institut Teknologi Bandung yang status hukumnya sebagai instansi pemerintah dalam bentuk jawatan negeri pada tanggal 26 Desember 2000, Pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No. 155 tahun 2000 telah menetapkan Institut Teknologi Bandung sebagai suatu Badan Hukum Milik Negara.

Perguruan Tinggi Negeri dengan status Badan Hukum adalah sesuatu tanpa preseden dalam sejarah Pendidikan Tinggi di Indonesia. Hal ini diawali dengan terbitnya PP No. 61 tahun 1999 tentang Penetapan Perguruan Tinggi Negeri sebagai Bahan Hukum yang kemudian disusul diterbitnya PP No. 155 tahun 2000 tentang Penetapan Institut Teknologi Bandung menjadi Bahan Hukum Milik Negara. Maka dengan terbitnya PP 155 tersebut, sejak tanggal 26 Desember 2000 yang lalu ITB resmi menjadi Badan Hukum sebagaimana layaknya badan hukum lainnya yang dibenarkan melaksanakan segala perbuatan hukum yang tidak melanggar hukum serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pertimbangan pertama yang ditinjau dalam PP No. 61 secara singkat adalah adanya globalisasi yang menimbulkan persaingan yang tajam. Maka untuk meningkatkan daya saing nasional dibutuhkan PT yang dapat membangun masyarakat madani yang demokratis dan mampu bersaing secara global. Untuk itu PT, termasuk ITB, harus memperoleh kemandirian, otonomi dan tanggung jawab yang lebih besar. Penekannya ada pada adanya proses globalisasi.

Fakultas

1. FMIPA

BANDUNG, fmipa.itb.ac.id – Acara pengenalan program studi sarjana di lingkungan FMIPA ITB telah diselenggarakan di Aula Timur, Jum’at (23/9/2011) yang dihadiri oleh 362 mahasiswa FMIPA ITB angkatan 2011, para ketua program studi, dosen wali dan dekanat FMIPA ITB. Dosen wali yang hadir adalah Suhadi Wido Saputro, M.Si (Matematika); Dr. Rizal Kurniadi, Dr. Priastuti Wulandari, Dr. Fatimah Arofiati Noor (Fisika); Dr. I Nyoman Marsih, Dr. Bunbun Bundjali, Dr. Lia Dewi Juliawati, dan Dra. Samitha Dewi Djayanti ( Kimia ). Sementara proses pendaftaran peserta berlangsung, dilakukan pemutaran video profil dari masing – masing program studi (Kimia, Matematika, Fisika, dan Astronomi). Acara dimulai dengan kata sambutan dari Wahyu Srigutomo, Ph.D, perwakilan dari dekan FMIPA ITB berhubung Prof. Dr.rer.nat. Umar Fauzi, dekan FMIPA ITB berhalangan hadir. Kemudian dilanjutkan dengan acara penyerahan penghargaan Dean List kepada 34 mahasiswa berprestasi FMIPA ITB dengan nilai indeks prestasi akademik di atas 3,5 dan beberapa persyaratan lainnya.

Acara utama berupa pemaparan profil program studi sarjana yang masing-masing disampaikan oleh ketua prodi sarjananya, dimulai dengan Astronomi oleh Dr. Mahasena Putra, M.Sc, Fisika oleh Abdul Waris, Ph.D, Matematika oleh Dr. Janson Naiborhu, dan terakhir Kimia oleh Dr. Dessy Natalia. Pemaparan mengenai profil dari masing – masing prodi tersebut pada umumnya berkaitan dengan fasilitas – fasilitas laboratorium, tema kajian penelitian kelompok keilmuan dari setiap program studi, prospek pekerjaan bagi alumni, dan kerjasama yang dilakukan oleh masing – masing program studi dengan lembaga atau institusi yang lain baik dalam skala nasional maupun internasional.

Setelah acara pemaparan profil program studi, mahasiswa diberikan kesempatan untuk bertanya yang lebih jauh langsung kepada para ketua program studi di lingkungan FMIPA ITB, pada acara sesi tanya – jawab. Yanuar salah satu mahasiswa FMIPA ITB angkatan 2011 menanyakan mengenai seberapa besar kontribusi program studi di lingkungan FMIPA ITB untuk kemajuan bangsa. Dr. Janson Naiborhu, Ketua Prodi Sarjana Matematika menjelaskan bahwa sebagian besar organisasi profesi yang ada di Indonesia diinisiasi oleh alumni – alumni ITB. Dr. Dessy Natalia, Ketua Prodi Sarjana Kimia menjelaskan bahwa beberapa alumni yang menjadi owner perusahaan seperti Bapak Syauki (Owner PT. Siskem) dan Bapak Subakat (Owner Wardah/ PT.PTI). Akhirnya acara ini yang berlangsung selama 2 jam ini ditutup pada jam 16.00 WIB.

2. FTI

Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung (FTI ITB) diresmikan pada tahun 1973. Namun sebagian kegiatan akademik di departemen yang berada di bawah naungan FTI ITB telah dilaksanakan sebelumnya. Hingga Desember 2005, departemen yang berada di bawah naungan FTI ITB adalah Departemen Teknik Kimia, Teknik Mesin, Teknik Elektro, Teknik Fisika, Teknik Industri, Teknik Informatika, dan Teknik Penerbangan.

Berdasarkan Surat Keputusan Rektor ITB No. 222/SK/K01/OT/2005 tentang Pengelolaan Satuan Akademik di lingkungan Institut Teknologi Bandung, fungsi dan peranan administrasi yang semula berada di departemen dialihkan ke fakultas dan istilah departemen diubah menjadi program studi. Berdasarkan SK Rektor tersebut pula, per 1 Januari 2006? didirikan Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) yang menaungi Program Studi Teknik Elektro dan Teknik Informatika.

Selanjutnya, per 1 Januari 2008 berdasarkan SK Rektor No. 245/SK/K01/OT/2007 didirikan Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) yang menaungi Program Studi Teknik Mesin, Teknik Material, dan Teknik Penerbangan.

Sejak 1 Januari 2008, program studi yang berada dibawah tanggung jawab FTI ITB adalah 3 (tiga) Program Studi Sarjana yaitu Teknik Kimia, Teknik Fisika, dan Teknik Industri; 4 (empat) Program Studi Magister yaitu Teknik Kimia, Teknik Fisika, Instrumentasi dan Kontrol, Teknik dan Manajemen Industri ; dan 3 (tiga) Program Studi Doktor yaitu Teknik Kimia, Teknik Fisika, Teknik dan Manajemen Industri.

3. SPS

Sejarah pendidikan pascasarjana ITB berjalan seiring dengan sejarah perkembangan ITB itu sendiri, yakni sejarah didirikannya Technische Hogeschool te Bandung (Th) pada tanggal 3 Juli 1920. Tercatat bahwa lulusan pascasarjana pertama pada waktu itu adalah N.H. van Harpen yang memperoleh gelar Doktor bidang ilmu teknik dengan kekhususan Sipil pada tahun 1930. Sebelumnya J.W. Ijerman memperoleh gelar Doktor honoris causa pada bidang yang sama tahun 1925. Seiring dengan perjalanan sejarah Negara Indonesia, pada tahun 1950 didirikan Universitas Indonesia sebagai hasil integrasi Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia (19 Agustus 1945) dan Universiteit van Indonesia (1947) berdasarkan Undang-Undang Darurat no. 7 tahun 1950. Institut Teknologi Bandung (ITB) diresmikan tanggal 2 Maret 1959 dan merupakan gabungan dua fakultas yang merupakan bagian dari Universitas Indonesia yang berada di Bandung, yaitu fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam ditambah Balai Universiter Guru Gambar.

Pada saat masih berstatus sebagai Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam, Universitas Indonesia, pendahulu ITB ini telah menghasilkan 17 orang Doktor dalam bidang Teknik Sipil, Teknik Kimia, Geologi, Fisika, Farmasi, Matematika dan Kimia. Lulusan Doktor ITB yang pertama J.A. Katili , Geologi, yang menyelesaikan studinya tahun 1960. Sejak itu sampai tahun 2005 telah dihasilkan 404 orang Doktor, termasuk 3 orang Doktor honoris causa, yaitu Dr.Ir. Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia, Dr.Ir. Sediatmo, dan Prof.Dr.Ir. Rooseno.

Pada tahun 1976 berdiri Sekolah Pascasarjana di Institut Teknologi Bandung, yang selanjutnya berubah menjadi Program Pascasarjana, dan namanya kembali menjadi Sekolah Pascasarjana di tahun 2005. Lulusan program Doktor pertama dari Sekolah Pascasarjana adalah Ir. Sri Hardjoko yang memperoleh gelar Doktor di tahun 1979 untuk bidang studi Teknik Mesin dengan Pembimbing/Promotor Prof.Ir. Samudro, Prof.Dr. R. Van Hasselt dan Prof.Ir. Handojo.

Program Magister di Institut Teknologi Bandung dimulai tahun 1979 dengan tiga program studi yaitu program studi Fisika, Matematika, dan Teknik Mesin. Selanjutnya pada tahun 1980 berkembang menjadi 11 program studi karena dibuka 8 (delapan) program studi baru yaitu program studi Arsitektur, Biologi, Elektroteknik, Farmasi, Kimia, Teknik Kimia, Teknik Sipil, dan Teknik dan Manajemen Industri. Saat ini secara keseluruhan terdapat 41 program studi Magister di lingkungan Sekolah Pascasarjana ITB. Sejak tahun akademik 1979/1980 hingga saat ini Sekolah Pascasarjana ITB telah menghasilkan sebanyak 17.735 lulusan program Magister (S2) dan 696 lulusan program Doktor dari berbagai program studi.

4. Sekolah Farmasi

Sekolah Farmasi ITB didirikan pada 6 Oktober 1947, dengan nama Departemen Farmasi, di bawah fakultas yang bernama Faculteit voor Wiskunde and Natuurwetenschapen. Saat itu, fakultas ini merupakan bagian dari Univertitas Indonesia. Pada tanggal 1 Februari 1949, fakultas ini diubah menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Ilmu Alam (FIPIA), namun tetap berada di bawah Universitas Indonesia. Struktur organisasi Departemen Farmasi sangat sederhana, hanya satu orang yang bertanggungjawab untuk mengatur departemen, namun sejak 1959, organisasi berkembang dan seorang sekretaris diangkat untuk membantu ketua departemen.

Pada tahun 1953 untuk pertama kalinya, warga negara Indonesia, Prof. dr. Rd Mhd Djuhana Wiradikarta, menjadi dekan of FIPIA, salah satu staf akademik di Departemen Farmasi, sampai tahun 1959. Pada tanggal 2 Maret 1959, Fakultas Teknik dan FIPIA digabung menjadi sebuah institusi baru, yaitu Insitut Teknologi Bandung (ITB) dan Departemen Farmasi menjadi bagian dari Departemen Kimia dan Biologi sampai tahun 1961. Setelah perubahan organisasi pada tahun 1973, Departemen Farmasi menjadi bagian dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Hingga tahun 1987, Departemen Farmasi terdiri dari 5 bagian keilmuan, yaitu Kimia Farmasi, Formulasi, Biologi Farmasi, Farmakologi, dan Ilmu Dasar dan Ilmu Tambahan. Tiap-tiap bagian merupakan ilmu yang berhubungan, atau kelompok keilmuan dan terapan di bidang farmasi. Bagian-bagian ini meliputi teori, praktek, dan penelitian. Pada tiap bagian ada beberapa mata kuliah yang dibimbing oleh seorang staf sebagai kepala bagian yang bertanggungjawab untuk mengatur dan mengembangkan bagiannya dalam kuliah yang diberikan, praktek di laboratorium, dan mengatur proyek penelitian. Setiap laboratorium diatur dan diawasi oleh kepala laboratorium, dan setiap staf di departemen punya tanggungjawab masing-masing dalam memberikan kuliah, mendampingi praktikum, dan membimbing proyek penelitian mahasiswa. Organisasi akademik ini perlahan berkembang dan meningkat, dan sekarang sekolah mempunyai 4 Kelompok Keilmuan, yaitu Farmasetika, Farmakokimia, Farmakologi dan Farmasi Klinik serta Biologi Farmasi.

Di awal tahun 1947, mahasiswa yang diterima di Departemen Farmasi merupakan lulusan sekolah kelas B, seperti HBS, AMS, VHO atau sekolah menengah. Bahasa yang digunakan dalam perkuliahan adalah Bahasa Belanda dan Bahasa Inggris. Lama studi 5,5 tahun, terdiri dari 3 tahun tahap Sarjana Muda dan 2,5 tahun tahap Sarjana (S-1). Lulusannya mempunyai kesempatan untuk melanjutkan pendidikan lanjut (S-3) jika telah mengerjakan sedikitnya 1 subyek (mata kuliah) besar (hoofdvak) dan 2 subyek kecil (bijvak). Sebagai contoh, subyek besar adalah kimia, dan subyek kecil adalah botani, kehewanan, dan fisika. Kurikulum belum terstruktur dengan baik dan tidak ada batasan lama studi. Mulai tahun 1951, beberapa subyek telah ditambahkan ke dalam kurikulum sesuai dengan kebutuhan sistem pendidikan.

Karena keberadaan apoteker di Indonesia kurang memuaskan, pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional RI mengeluarkan peraturan lama studi farmasi di perguruan tinggi, yaitu 4 tahun, yang terdiri dari 1 tahun tahap persiapan, 1 tahun pendidikan calon farmasis, dan 2 tahun pendidikan farmasi.

Pada tahun 1960, lama pendidikan farmasi berubah menjadi 6 tahun, yaitu 5 tahun pendidikan sarjana dan 1 tahun pendidikan profesi. Kurikulumnya diubah dan disesuaikan dengan kebutuhan sistem pendidikan. Beberapa mata kuliah baru dimasukkan ke dalam kurikulum, seperti Bahasa Inggris, Pendidikan Militer, Ilmu Resep, dan lain-lain.

Pada tahun 1973, ada perkembangan yang signifikan di ITB. Semua mahasiswa baru dimasukkan ke dalam Tahap Persiapan Bersama (TPB), mereka tidak dapat mendapatkan pendidikan di departemen manapun hingga mereka lulus TPB. Pada saat ini berlaku sistem kredit semester (SKS). Mahasiswa dapat memilih mata kuliah yang diinginkan dengan jumlah maksimum 24 SKS per semester. Sistem ini memudahkan mahasiswa untuk mengembangkan kemampuannya sendiri selama menyelesaikan pendidikan. Kemudian, kurikulum diubah setiap 5 tahun, disusun berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Kurikulum yang berlaku saat ini adalah kurikulum tahun 2003.

Selain Program Sarjana, sekarang Sekolah Farmasi menyediakan Program Magister dan Program Doktoral. Ada 8 jalur pilihan untuk Program Magister dan Doktoral, yaitu Farmasi Analisis, Kimia Medisinal, Teknologi Farmasi, Biofarmasi, Farmakognosi-Fitokimia, Farmakologi-Toksikologi, Analisis dan Keamanan Makanan, dan Farmasi Rumah Sakit. Sekolah farmasi juga membuka program pendidikan profesi yang bergelar apoteker dengan lama studi 1 tahun, pendidikan meliputi kuliah, kerja praktek profesi farmasi dan ujian komprehensif.

Pada tahun 1996, Departemen Farmasi ITB mempunyai kesempatan untuk mendapatkan tempat baru, yaitu Laboratorium Teknologi (Labtek) VII, di tengah ITB, di sebelah Gedung Teknik Elektro dan FMIPA. Dengan luas tanah 6579 m2, Departmen Farmasi ITB mengoptimalkan fasilitas dan bangunan untuk melayani mahasiswa dan stake holder. Banyak instrumen dan fasilitas modern diadakan, dan didukung oleh staf-staf berpengalaman. Semua ini membuat Departemen Farmasi ITB menjadi salah satu pendidikan farmasi terbaik di Indonesia.

Berdasarkan SK Rektor ITB No. 222/SK/1001/OT/2005 yang ditandatangani 29 Agustus 2005, status Departemen Farmasi berubah menjadi Sekolah Farmasi dan mulai berjalan sejak 29 Agustus 2005. Sekolah Farmasi mulai tahun 2006 memiliki 2 program studi untuk strata sarjana, yaitu Program Studi Science Technology Farmasi dan Program Studi Farmasi Klinik dan Komunitas.

5. SAPPK

Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB didirikan pada tanggal 29 Agustus 2005, berdasarkan SK Rektor ITB No. 222/2005 yang bertujuan melakukan reorganisasi unit-unit akademik ITB dengan menambahkan jumlah Fakultas / Sekolah dari 7 (tujuh) menjadi 11 (sebelas). Namun unsur-unsur pembentuk SAPPK bukanlah hal yang baru, karena seluruh program akademik dan sumber dayanya berasal dari dua departemen yang semula bernaung di bawah Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (yaitu: Arsitektur, Perencanaan Wilayah dan Kota) dan dua program studi yang semula bernaung di bawah Fakultas Teknik Industri (yaitu: Studi Pembangunan dan Transportasi ).

SAPPK ITB mulai aktif beroperasi sejak tanggal 1 Januari 2006 sebagai unit implementasi akademik yang bertanggung jawab melaksanakan kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. SAPPK memiliki 12 (dua belas) program studi mulai dari strata pendidikan sarjana sampai dengan doktor, 8 (delapan) kelompok keahlian, 79 (tujuh puluh sembilan) staf akademik, dan 42 (empat puluh dua) staf non akademik, dan 1407 mahasiswa program sarjana dan pascasarjana (kondisi Desember 2010).

Seperti telah digariskan dalam AD/ART ITB BHMN, SAPPK ITB mengemban amanat untuk membina dan mengembangkan pengetahuan ilmiah, budaya dan komunitas akademik yang kondusif, serta jejaring dan inisiatif kerjasama internasional.

Visi:

Menjadi institusi pendidikan dan penelitian yang terkemuka di Asia dan memiliki reputasi Internasional, dalam bidang perencanaan, perancangan dan pengembangan kebijakan lingkungan binaan yang berkelanjutan.

Misi:

  1. Memberikan kontribusi signifikan terhadap penciptaan dan diseminasi pengetahuan ilmiah dalam bidang perencanaan, perancangan dan pengembangan kebijakan lingkungan binaan, serta penerapannya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, pembinaan lingkungan berkelanjutan, sehingga kemungkinan terjadinya peningkatan kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia pendukung pada tingkat lokal hingga nasional, melalui sinergi antara kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
  2. Mengembangkan program pendidikan bidang perencanaan, perancangan dan pengembangan kebijakan lingkungan binaan, yang mampu membina kemampuan berfikir kreatif dan kritis serta sikap etis dan bertanggung jawab pada lulusan, sehingga siap menjadi tenaga profesional, wirausaha, pemimpin dan agen perubahan yang andal dalam masyarakat.
  3. Mendorong tumbuhnya kegiatan akademik dan upaya kolaboratif dengan perhatian khusus pada isu-isu tentang: good governance; community based and participatory approach; pengetahuan, budaya dan identitas lokal; harmonisasi antara tantangan serta peluang global vs lokal.
6.FITB

Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) semula adalah bagian dari Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral (FIKTM). Ide pemekaran FIKTM muncul karena spektrum ilmu kebumian yang lebar dan memunculkan dikotomi sains (science) dan teknik (engineering). Keadaan ini mengakibatkan adanya perbedaan antar bidang ilmu yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya khususnya dalam menunjang pelaksanaan Tri Dharma Perguruan tinggi di FIKTM. Bidang-bidang ilmu kebumian seperti geologi, geofisika, meteorologi dan osenografi mepelajari bumi untuk dapat memehami fenomena-fenomena yang tentunya bermanfaat untuk berbagai hal yang menyangkut kehidupan manusia termasuk memberi gambaran tentang sumberdaya yang terkandung di dalam bumi tersebut. Bidang-bidang ini memiliki kandungan sains yang besar namun tidak lepas dari kandungan terapannya.

Sementara bidang yang mengkaji sumberdaya yang terkandung di dalam bumi, selain membutuhkan pengetahuan dasar ilmu kebumian, juga perlu di lengkapi dengan berbagai cara dan metoda terapan untuk menkuantifikasi potensi dan cadangan, mengusahakan (eksploitasi), mengolah, dan mengelola (manajemen) sumberdaya bumi agar dapat dimanfaatkan secara optimal. Bidang-bidang terapan yang memiliki kandungan engineering yang lebih besar mencakup bidang pertambangan dan perminyakan.

Berdasarkan pertimbangan diatas, maka FIKTM dimekarkan menjadi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) dan Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM). Tujuan dari pembentukan kedua Unit Keilmuan Serumpun (UKS) adalah mengembangkan institusi keilmuan yang lebih fokus dalam rangka mencapai visi menjadi institusi bertaraf internasional. Organisasi yang lebih ramping tentunya memiliki kendali manajemen yang lebih baik sehingga diharapkan lebih lincah dan sigap dalam memmilih langkah untuk mencapai visi tersebut. Dengan lebih fokusnya masing-masing UKS terutama maka diharapkan peran dari UKS, termasuk KK dan program studi di dalamnya, lebih meningkat, baik secara internal maupun secara eksternal untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi bangsa dan negara RI.

Pemekaran fakultas tersebut dikuatkan oleh:

  • SK Rektor Institut Teknologi Bandung nomor 040/K01/SK/OT/2007 tentang Perubahan FIKTM menjadi Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) dan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) dan
  • SK Rektor Institut Teknologi Bandung nomor 257/SK/K01/OT/2007 tentang Pemindahan Program Studi Geodesi dan Geomatika dan Kelompok Keilmuan/keahlian Geodesi, KK Inderaja dan Sains Informasi Geografis, KK Sains dan Rekayasa Hidrografi, KK Surveying dan Kadaster dari Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ke Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung.
7. SBM

Sekolah Bisnis dan Manajemen adalah salah satu lembaga akademik di lingkungan ITB yang berfungsi menjalankan misi Tridarma Perguruan Tinggi yang mencakup pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat.

Sejalan dengan visinya, SBM mencoba mengembangkan diri menjadi unggul dalam riset dan pendidikan di bidang manajemen. Kegiatan riset SBM mencoba untuk mengangkat kasus-kasus praktik bisnis dan manajemen dari perusahaan terkemuka dan berhasil di Indonesia sehingga pengembangan teori menjadi relevan dengan konteks Indonesia.

Kedekatan dengan lingkungan bisnis dan ditunjang oleh metodologi riset yang handal, SBM diharapkan mampu menciptakan keunggulan kemampuan riset di tataran internasional. Aspek pendidikan akan diarahkan untuk mendapatkan akreditasi yang bertaraf internasional. Pendidikan di lingkungan SBM dikembangkan untuk siap bersaing dengan sekolah bisnis terkemuka lainnya di kawasan Asia dan Pasifik.
Saat ini SBM ITB memiliki empat program studi: Sarjana Manajemen, Magister Administrasi Bisnis, Magister Sains Manajemen, dan Doktor Sains Manajemen.

Kami juga memiliki unit-unit bisnis seperti Pusat Inovasi, Kewirausahaan, dan Kepemimpinan (CIEL), Konsultasi dan Pembelajaran Berkelanjutan (CCE), serta Indonesia Business Case Center (IBCC).

Keunikan program
Program sarjana mempunyai program yang tidak hanya menuntut mahasiswa belajar secara intensif mengenai teori manajemen.  Mahasiswa juga mempelajari praktek manajemen seperti menciptakan sebuah perusahaan yang didanai oleh pinjaman dari bank swasta (Integrative Business Experience). Hasil bisnis tersebut kemudian diwujudkan  dalam bentuk tanggung jawab sosial. Program lain selain praktik bisnis adalah orientasi, kunjungan ke perusahaan, public performance, teamwork, dan community service. Untuk menambah wawasan mahasiswa, kami menghadirkan dosen tamu dan seminar sebagai wadah di mana para profesional dapat berbagi pengalaman.

Studi di Program pasca sarja SBM ITB pun sangatlah menarik karena sistem pembelajaran yang menitikberatkan pada semua aspek manajemen, pengembangan organisasi yang inovatif, kritis dan kemampuan interpersonal dalam dunia bisnis dan kewirausahaan. Mahasiswa pasca sarjana juga mendapatkan program praperkuliahan seperti outbond dan Neuro Linguistic Program. Program yang didapatkan selama perkuliahan seperti debat akademik, group discussion, seminar, guest lecture, business plan competition dan field trips.

Penghargaan
SBM menghadapi tantangan untuk menjadi sekolah bisnis yang mampu memberikan kontribusi pada perkembangan usaha di Indonesia dan menciptakan professional/pemimpin bisnis yang tangguh. SBM mendapatkan penilaian tertinggi dalam faktor kualitas dan reputasi sebagai Sekolah Bisnis Terbaik 2009. SBM mempersiapkan mahasiswa untuk turut serta dalam kompetensi yang bersifat internasional. Misalnya,  keberhasilan dalam L’Oreal Estrat Challenge di Paris selama empat tahun berturut-turut adalah salah satu prestasi dari komitmen kami untuk memasuki kompetisi global.

Kemitraan
SBM ITB juga  menjalin kerjasama dengan Universitas Luar Negeri, seperti Tokyo University of Science (2009) di bidang Double Degree Program and Joint Research, Tokyo Institute of Technology (2008) di bidang Joint Research, Publications and Seminar on Decision Science, University of St. Gallen Swiss (2007) di bidang Students Exchange, University of Groningen Belanda (2007) di bidang Students Exchange, serta Universitas Utara Malaysia (2006) di bidang Student Exchange, Academic and Administrative Staff Exchange, Joint Research and Quality Programs.

Dosen tamu mancanegara
Untuk memperkuat dinamika dan pertukaran keilmuan, kami mengundang Visiting Professor dari mancanegara. Hingga saat ini, beberapa dari mereka adalah Mark Harrison, Ph.D (Daniel Webster College, New Hampsire); Prof. C.W. Watson (Kent University, UK); Prof. Richard W. Moore (California University, USA); Prof. Larry Michaelsen (Central Missouri State University, USA); Prof. Rushami Yusoff (Universiti Utara Malaysia); serta Prof. Deguchi dan Prof. Kijima (Tokyo Institute of Technology).

 

3 Responses to “B. ITB”

  1. yenimeita Says:

    semoga masuk ITB yee pit (y)

  2. pitfitriariyani Says:

    AMIN🙂 makasih yeyen

  3. annasupriadii Says:

    smoga cita-cita mu tercapai……
    gunakan waktu sebaik mungkn,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: